google yahoo msn youtube aol wikipedia  amazone  facebook twitter


Wednesday, August 19, 2009

Home » » "Puasa Ramadhan Terakhir"

"Puasa Ramadhan Terakhir"

Assalamu‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh. Alhamdulillahirabbil ‘aalamin wa shalatu wa salaamu ‘alaa nabiyyina Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa ashaabihi ajma’iin. Asyhadu anlaa ilaaha illa Allah wahdahu laa syarikalahu wa asyhadu anna Muhammadan Abduhu wa Rasuluhu, la nabiyya ba’dahu. Wa ba’du. Baru kemarin rasanya kita menyambut bulan Ramadhan, sekarang kita bersiap-siap lagi untuk menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan 1430 hijriyah. Itulah masa, pergantian siang dan malam, pertukaran detik ke detik, menit ke menit, jam ke jam, seakan-akan saling mengejar tanpa henti. Perputaran hari, minggu dan bulan serta pergantian tahun adalah lingkarannya. Allah Ta’ala telah berfirman :

Artinya : “Allah yang mempergantikan malam dan siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat pelajaran yang besar bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan.: (QS. An-Nur; 44)

Wahai Saudaraku…Tahu kah kita…Apa hikmah yang terkandung di dalam pertukaran siang dan malam bagi anak-cucu Adam ???
Ketahuilah, wahai saudaraku !….Pergantian siang dan malam sebagai tempat pundi-pundi penyimpanan amal manusia dan tahapan-tahapan datangnya ajal.


Setiap hari yang kita lalui semakin menjauhkan kita dari dunia dan mendekatkan diri kita ke kampung akherat. Terbit dan tenggelamnya matahari sebagai pertanda bahwa dunia bukan lah tempat tinggal abadi….dunia dan isinya pasti akan binasa.

Perputaran bulan yang dimulai dari terbitnya hilal (bulan sabit), kemudian beranjak membesar menuju bulan purnama yang sempurna yang membuat takjub bagi setiap manusia yang melihatnya…..kemudian mengecil dan tenggelam di akhir waktu. Itu sebagai pertanda perjalanan kehidupan manusia…yang dimulai dari kelahiran kemudian beranjak dewasa dan akhirnya tiba masanya untuk meninggalkan dunia dan isinya.

Wahai saudaraku! Coba kita tukikan pandangan sejenak ke belakang, saat kita di akhir tahun, begitu terasa cepat waktu telah berlalu. Akan tetapi ….begitu kita telah berada di awal tahun, akan terasa lama panjangnya waktu yang akan kita lalui. Sehingga kita merasa mempunyai cukup waktu dan menunda-nunda waktu untuk bertaubat dan memperbanyak amalan sholeh.

Wahai saudaraku….yang demikian itu adalah bisikan syaithon sebagai tipu daya bagi manusia agar mereka selalu dibuai oleh mimpi-mimpi dan panjang angan-angan dan pada akhirnya mereka lupa akan hakekat dirinya. Dibuatlah pandangan dunia ini…seolah-olah sebagai tempat yang abadi dan lupa bahwa kain kafan telah digunting oleh orang untuk dirinya.

“Dan datanglah sakarotul maut dengan sebenar-benarnya. Itu lah yang kamu selalu lari darinya.” (Qaf: 19)

Wahai saudaraku ! … Apa yang masih terasa dan tersisa dengan berlalunya Ramadhan tahun lalu????

Semuanya telah hilang, semuanya telah sirna….apa yang kita cubit dengan jemari kita pada masa lalu, tidak akan terasa lagi perihnya hari ini. Apa yang kita alami dari pengalaman pahit pada masa lalu, tidak akan menyusahkan pikiran kita saat sekarang ini. Letihnya ahli ibadah dalam beribadah kepada Allah Ta’ala, sudah tidak beda dengan nikmatnya pelaku maksiat dalam berbuat dosa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala……Yang tinggal bagi mereka hanya lah pertanggung-jawaban dan balasannya.

Wahai Saudarku ! Dimanakah sekarang Fir’aun dengan kebesarannya !? Dimanakah sekarang Haman dengan ilmu dan keahliannya!? Dimanakah sekarang Qorun dengan tumpukan harta dan kunci-kunci gudangnya!?

Bukankah mereka telah sirna dari pandangan kita, tidak meninggalkan jejak dan bekas. Bukankah kita tidak lagi mendengar suara Fir’aun yang berkata, “Akulah Tuhan kalian yang tinggi!” , bukankah kita tidak lagi mendengarkan suara Qorun yang berkata, “ Sesungguhnya aku peroleh semua harta ini, dari keahlianku.”

Yang pasti…yang tinggal dan yang tersisa bagi mereka adalah azab dan siksaan yang pedih.

Itulah masa ! …Tuan-tuan dan diri saya tidak perlu bersusah payah …apa dan bagaimana mereka-mereka yang telah berlalu. Yang terpenting, bagaimana kita ? Dan apa yang harus kita perbuat dengan sisi umur yang masih tersisa!? Allah telah berfirman :

“ Itulah umat yang telah berlalu, bagi mereka apa yang mereka perbuat dan bagi bagi kamu apa yang kamu perbuat, dan kamu tidak akan dipertanyakan apa yang telah mereka perbuat.” (QS. Al-Baqarah : 141)

Wahai saudaraku ! Ketahuilah bahwa masa yang dilalui manusia itu , terbagi tiga:

Masa yang telah lalu
Masa depan yang belum berlalu
Masa sekarang ini


Masa yang telah lalu, biarlah berlalu. Apa yang telah terjadi biarlah terjadi. Sedangkan masa depan yang belum berlalu dan masih dalam lamunan dan khayalan, janganlah dirisaukan! Yang terpenting adalah masa sekarang ini…..karena kehidupan dunia yang sebenarnya adalah detik dan hari ini, oleh karena itu janganlah kita sia-siakan.

Alangkah hinanya kita, jika masa saat ini kita isi dengan dosa dan maksiat………alangkah bodohnya kita, jika waktu yang sangat singkat ini…tidak kita gunakan mencari bekal untuk kehidupan akherat yang kekal nan abadi.

Sebagai hamba Allah yang baik adalah hamba yang mengisi kata-kata kehidupanya dengan kebaikan, tanpa meratapi masa lalu atau merasa khawatir akan masa depan. Sehingga Rasulullah bersabda:

“ Jadilah engkau di dunia bagaikan orang asing atau sebagai seorang musafir” (HR. Bukhari ) 

Kemudian shahabat Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu melanjutkan sabda Beliau:

“Jika kalian berada di waktu sore, janganlah kalian menunda beramal sampai datangnya waktu shubuh. Dan jika kalian berada di waktu shubuh, janganlah kalian menunda beramal hingga datang waktu sore. Pergunakanlah waktu sehatmu untuk beramal sebelum datang sakitmu, dan pergunakan lah masa hidupmu untuk beramal sebelum ajal datang menjemputmu.” 

Dan di hadits yang lain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam pernah bersabda:

“Manfaatkan lima sebelum datangnya lima, yakni: masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa luangmu sebelum masa sempitmu, masa hidupmu sebelum masa matimu.” 

Wahai Saudaraku!....Kita akan memasuki Ramadhan 1430 Hijriyah…….dan kita telah meninggalkan Ramadhan tahun lalu oleh seluruh umat Islam sedunia dan bangsa Indonesia khususnya. Sesungguhnya Ramadhan tahun ini akan masih sama dengan ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Seandainya tidak ada perubahan pada diri kita menuju perubahan yang lebih baik. Secara lahiriah kita telah melaksanakan berbagai rutinitas ibadah di segala bidang, akan tetapi buahnya belum nampak. Yakni buah ketaqwaan yang menjadikan diri kita selalu merasa diawasi oleh Allah Ta’ala di setiap waktu dan tempat.

Ketika kita terus menghadapi krisis dekadensi moral, banyak orang yang berupaya untuk mencari akar masalahnya dengan fikiran kita masing-masing. Sebagian orang yang berpikir “kebarat-baratan” menganggap bahwa akar masalah dari krisis ini adalah karena kita tidak berorientasi ke Barat secara total. Sedangkan sebagian orang yang berpikir “ketimur-timuran” menganggap bahwa akar masalah krisis multidimensi Indonesia disebabkan bangsa ini tidak mau berorientasi ke Timur. Apakah yang salah dalam sistem kehidupan kita bermasyarakat, berbangsa dan bernegara ? Apakah benar orientasi ke barat atau ke timur menjadi biang keladi kemunduran besar bangsa ini ? Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah SWT telah memberikan peringatan yang paling hakiki dalam masalah ini dengan firman-Nya :

“Bukanlah menghadapkan wajah kamu ke timur dan ke barat itu suatu kebajikan. Tetapi sesungguhnya kebajikan itu adalah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta, serta (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, menunaikan zakat, serta orang-orang yang menepati janjinya apabila berjanji, serta orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya) dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa.” (Surat Al baqarah ayat 177).

Jelas bahwa akar krisis bangsa ini bukan terletak pada formalitas apakah kita menghadapkan wajah bangsa ini ke arah barat atau timur. Tetapi akar krisis itu terletak pada ketidak-fahaman kita tentang makna kebajikan itu sendiri yang sesungguhnya harus hadir dalam diri kita. Kebajikan itu seseungguhnya hanya datang dari ajaran, syari’at dan petunjuk Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alahi wa salam dalam hal ini bahwa untuk mendapatkan kejayaan bagi kaum muslimin maka syarat mutlak harus rujuk kembali kepada Islam yang haq….Hattaa tarji’uu diinikum.

Sesungguhnya Allah telah memberi kita kemampuan untuk menjadi manusia yang mandiri yang tidak tergantung kepada orientasi nilai-nilai barat atau nilai-nilai timur, asalkan saja syarat-syarat sebagaimana yang tercantum dalam Surat Al Baqarah ayat 177 itu dapat dipenuhi dengan baik oleh kita. Syarat-syarat itu adalah syarat-syarat fundamental bagi manusia untuk membangun kebajikan kehidupan mereka yaitu :

Pertama, adanya keimanan pada diri pribadi, masyarakat, bangsa dan negara Indonesia ini. Inilah syarat pertama dan utama terbangunnya kebajikan yang akan menjadi sumber kekuatan negeri ini. Kalau hal ini tidak diwujudkan dalam kehidupan nyata, maka syarat pertama ini hanya menjadi slogan saja. Akibatnya banyak diantara kaum muslimin yang mengaku mempertuhankan Allah, akan tetapi menempatkannya lebih rendah dari seorang direktur perusahaan. Mereka tidak memiliki rasa takut ketika melanggar perintah Allah atau mengerjakan larangan-Nya. Mereka merasa tidak diawasi kehidupannya oleh para malaikat yang mencatat segala perilaku mereka. Mereka tidak peduli dengan kehidupan lain setelah kehidupan mereka di dunia ini dimana segala perbuatan akan diganjar dengan pahala dan siksa. Mereka memiliki peraturan hidup dalam kitab suci tetapi tidak pernah disentuhnya, apalagi dipahami dan diamalkan isinya. Mereka mendengar utusan-utusan Allah datang ke dunia tetapi tak peduli dengan misi dan sepak terjang utusan yang datang itu, apalagi menjadikannya sebagai suri teladan bagi dirinya. Harus kita akui bahwa dalam kehidupan bangsa ini “Tuhan” lebih banyak menempati wilayah slogan yang hanya disebut dalam upacara-upacara dan perayaan-perayaan. Tuhan tidak hadir dalam kenyataan perilaku kehidupan kita sehari-hari.

Syarat kedua untuk memperoleh kebajikan yang hakiki adalah dengan menggiatkan semangat berkorban kepada pihak-pihak yang membutuhkannya seperti kerabat dekat, orang-orang miskin, anak-anak yatim, orang yang meminta-minta, orang-orang yang terlantar dalam perjalanan (musafir) dan membebaskan hamba sahaya dari perbudakan. Allah SWT menekankan tentang perlunya semangat yang tinggi dalam berkorban dengan pernyataan bahwa sesuatu yang dikorbankan adalah sesuatu yang sangat dicintainya. Ini berarti pengorbanan yang diharapkan adalah pengorbanan yang prima karena melepaskan sesuatu yang disenangi dan dicintai bukanlah sebuah perkara yang mudah. Dengan hidupnya jiwa pengorbanan maka hak-hak sosial warga masyarakat akan senantiasa terjaga dan terlindungi.

Tetapi apa yang terjadi pada diri sebagian bangsa kita hari ini adalah sebaliknya, bukannya jiwa pengorbanan yang dimiliki tetapi justru jiwa penyabotan dan penyerobotan yakni senang merampas harta dan milik orang lain. Seolah-olah negeri ini tak putus-putusnya dari rongrongan korupsi yang menghabiskan seluruh potensi bangsa.

Syarat ketiga untuk memperoleh kebajikan hakiki adalah dengan mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Keimanan manusia dapat dipelihara dengan cara terus menerus mengadakan hubungan dengan Al-Khaliq, diantaranya melalui pelaksanaan shalat. Sesungguhnya bacaan dalam shalat adalah nasihat spiritual agung yang senantiasa dibacakan manusia kepada dirinya sendiri. Nasehat yang diingat oleh diri sendiri seharusnya menjadi nasehat yang sangat efektip. Oleh karenanya bagaimana mungkin seorang ahli shalat akan melakukan tindakan keji dan munkar jika dalam sehari semalam tujuh belas kali ia berdoa : “Ihdinas shirotol mustaqim” (Ya Allah, tunjukkan kami jalan yang lurus).

Semangat berkorban dan menolong orang lain, juga dapat diwujudkan dengan zakat. Zakat adalah sarana awal penumbuhan jiwa pengorbanan bagi seorang muslim karena dengan kewajiban itu seseorang harus mengakui bahwa dalam hartanya terdapat hak sosial yang tak terhindarkan. Oleh karena itu pemerintah dapat memaksa seseorang yang tidak mau mengeluarkan zakat atas hartanya yang telah memenuhi standar minimal (nishab). Tidak mungkin bagi seseorang yang mengabaikan kewajiban zakat tumbuh jiwa pengorbanannya, apalagi atas harta yang sangat dicintainya.

Sayangnya, kewajiban-kewajiban minimal dan asasi seorang hamba seperti shalat dan zakat pun masih banyak diabaikan oleh kaum muslimin. Jika kewajiban-kewajiban seperti ini ditunaikan dengan benar niscaya tidak akan terjadi kerusakan yang begitu parah pada negeri ini. Masalahnya, seringkali kewajiban ini – kalaupun dilakukan - hanya menjadi ritual dan formalitas belaka tanpa penghayatan yang sungguh-sungguh sehingga kontradiksi-kontradiksi sering terjadi.

Bagaimana mungkin seorang yang melaksanakan shalat terlibat dalam korupsi dan penipuan keji yang mengatasnamakan rakyat ? Tetapi kenyataannya hal itu terjadi. 
Bagaimana mungkin seorang yang dikenal sering memperlihatkan sedekahnya, terutama pada hari-hari raya Islam, pada saat yang sama juga menjadi seorang perampok kelas satu yang menguras harta negara ? Tetapi kenyataannya hal itu juga terjadi.

Syarat keempat untuk memperoleh kebajikan hakiki adalah dengan menunaikan janji apabila ia berjanji. Sesungguhnya janji itu sendiri mempunyai nilai positip bagi orang yang mengeluarkannya karena akan menguatkan azam (tekad) untuk berbuat sesuatu. Ucapan syahadat sendiri sesungguhnya merupakan janji seorang muslim kepada Rabb-nya dan hal ini terus menerus diulangi dalam shalat mereka. Tak hanya syahadat, masih banyak lagi dalam momen-momen kehidupan manusia janji-janji diucapkan dan diikrarkan. 

Seorang presiden, seorang menteri, seorang anggota dewan, seorang gubernur, bupati, camat dan lurah ketika dilantik mengucapkan janji. Seorang pemimpin partai, organisasi masyarakat, organisasi profesi ketika dilantik mengucapkan janji. Bahkan sepasang pengantin pun ketika melaksanakan akad nikah juga mengucapkan janji.

Kehidupan manusia dipenuhi oleh janji-janjinya sendiri. Oleh karena itu sudah dapat dibayangkan bagaimana nasib suatu bangsa apabila baik para penguasanya maupun rakyatnya ternyata adalah orang-orang yang senang mengingkari janjinya. Justru inilah yang kita hadapi dalam banyak kenyataan kehidupan kita. Janji lebih banyak dikeluarkan hanya sebagai pemanis bibir dan penghibur belaka bagi orang yang mendengarnya. Maka tidaklah heran jika ada seorang penguasa atau pejabat yang anak-anak dan keluarganya mendirikan perusahaan-perusahaan pencaplok proyek-proyek yang berada di sekitar kekuasaan. Padahal ketika dilantik sebagai penguasa atau pejabat itu berjanji tidak akan melakukan KKN dan tidak akan membiarkan keluarganya memanfaatkan kekuasaannya untuk berbisnis. Tidak heran jika ada seorang menteri yang membiarkan korupsi dan kejahatan merajalela di lingkungan kerjanya, padahal ketika di lantik ia berjanji akan memberantas tikus-tikus di instansinya sampai ke akar-akarnya. Tidak heran pula jika ada pemimpin partai yang berjanji akan memperjuangkan Syari’at Islam tetapi tenang-tenang saja membiarkan pelanggaran syari’at Islam terjadi di sekitar diri, keluarga, kepengurusan partai dan ruang lingkup kerjanya.

Syarat kelima adalah bersabar dalam kesempitan, bersabar dalam penderitaan dan peperangan. Kesabaran apakah yang diperlukan dalam sebuah situasi yang serba sulit ? Kesabaran itu tidak lain adalah kesabaran untuk bertahan dan pantang menyerah atau bersikap istiqomah/ teguh pendirian. Justru seharusnya dalam situasi krisis seperti ini kreativitas dan keberanian diperlukan dalam upaya memecahkan kebekuan dan kebuntuan persoalan. Sebaliknya, kepanikan dan ketakutan akan membuat seseorang mati langkah dan menyerah sebelum waktunya. Syarat kesabaran juga mengisyaratkan bahwa ujian-ujian akan datang kepada orang-orang yang teguh keimanannya, rela berkorban, taat beribadah dan konsisten terhadap janji-janjinya. Kepada orang-orang seperti inilah biasanya musuh-musuh Allah akan melancarkan serangan dan kebenciannya.

Sebagai individu orang-orang yang istiqomah biasanya akan mendapat tekanan dari orang-orang yang maksiat kepada Allah. Mereka diteror, diganjal, difitnah dan bahkan tak jarang disiksa dan dilenyapkan eksistensinya. Inilah resiko-resiko yang harus ditanggungnya. Apabila kesabaran ini tidak ada, maka tak jarang orang-orang yang pada awalnya baik pada akhirnya terjerumus ke dalam komunitas orang-orang maksiat. Kebaikan dirinya hanya tinggal kenangan lama karena ia kini telah menjadi bagian dari sistem yang korup dan menindas. Ia berada dalam istana yang sesungguhnya penjara bagi dirinya karena keberadaannya tidak lagi bermanfaat bagi dirinya apalagi bagi masyarakatnya.

Sebagai bangsa yang berupaya untuk mempertahan kemandirian ekonomi, sosial dan politiknya biasanya bangsa itu juga akan mengalami tekanan-tekanan dari bangsa-bangsa besar yang menghendaki bangsa ini mengekor kepada kebijakannya. Semakin kuat keinginan untuk melepaskan diri maka semakin kuat pula tekanan diberikan kepadanya. Inilah yang biasanya membuat para penguasa yang lebih menginginkan perlidungan negara asing daripada pembelaan rakyatnya dan pemimpin bangsa ini rela bertekuk lutut di hadapan para penjajahnya.

Bangsa Indonesia merasakan hal ini dalam percaturan politik internasional sekarang ini. Betapa bangsa ini telah didikte oleh kekuatan-kekuatan asing dalam bidang ekonomi, sosial dan politik. Kita sebagai rakyat telah menentang invasi Amerika dan sekutunya ke Afghanistan dan Irak, penghancuran rumah-rumah penduduk sipil di Palestina oleh Al-Yahud la’natullah, tetapi dunia tidak mempedulikannya. Apa yang kita lihat kini adalah kebohongan yang dilakukan oleh negara-negara tersebut terbongkar dengan sangat nyata oleh bangsa mereka sendiri. Tetapi pemimpin-pemimpin yang tidak sabar di berbagai belahan dunia telah memaksakan isu-isu terorisme menjadi agenda terhadap rakyatnya sendiri seraya melupakan siapa yang sesungguhnya merupakan teroris sejati di jagad ini.

Sesungguhnya jika kita akan membenahi krisis bangsa ini tidak ada jalan lain kecuali kita harus teguh memegang nilai-nilai yang diajarkan dan disyariatkan Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada kita. Sesungguhnya Islam adalah kekayaan yang tak ternilai harganya bagi kehidupan kita tetapi kita telah mengabaikan dan bahkan memendamnya dalam-dalam. 

Kaum muslimin adalah bagian terbesar dari bangsa ini dan bahkan bagian terbesar dari komunitas kaum muslimin di dunia. Nasib masa depan kita akan sangat tergantung pada penyikapan kita terhadap ajaran agama kita, apakah akan kita jadikan slogan semata atau akan kita hidupkan dalam tingkah laku pribadi, bermasyarakat dan bernegara kita. 

Inilah saatnya kita menentukan sikap dengan tegas. Inilah saatnya kita memilih jalan hidup yang menjanjikan masa depan. Inilah saatnya bagi kita untuk tidak bersifat ragu-ragu dan inilah saatnya kita untuk segera bertaubat atas dosa dan kelalaian kita. 

Mari kita jadikan ramadhan tahun ini sebagai tonggak sejarah perubahan pada diri kita, masyarakat kita dan bangsa Indonesia . Akhirnya marilah kita berdoa kepada Allah SWT semoga kita diberi keselamatan dan kesabaran dalam mengarungi lautan kehidupan baik sebagai diri, bangsa dan negara.



Kiat Mencapai Keberhasilan di Bulan Ramadhan


Al-Qur’an surat Al-Baqoroh :183

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu menjadi orang bertakwa”

Begitu banyak faedah dan keutamaan puasa, akan tetapi masih banyak juga orang yang berpuasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja. Sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam.:

Rubba Shaaimun Hazhzhuhu min Shaa imihi Al-Juu’u wal ‘Athasyu 

“ Berapa banyak orang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar dan dahaga dari puasanya.” (HR. Ahmad – dishahihkan Al-Albani)

Agar kita tidak termasuk orang-orang yang digambarkan Nabi shallallallahu ‘alaihi wa salam sebagai orang yang merugi maka renungkanlah kiat berikut ini dalam menggapai derajat ‘Al-Muttaqien” di bulan Ramadhan :

Melakukan muhasabah terhadap diri



  • - Sisa umur yang tersisa mau kita apakan ???
  • - Kematian itu pasti, kapan dan dimana seseorang itu mati tidak ada satu orang yang mengetahuinya...kapan lagi kita akan menyiapkan bekal untuk akherat?
  • - Membandingkan antara nikmat dan kedurhakaan yang pernah kita perbuat….pantaskah nikmat yang banyak dibalas dengan kedurhakaan…..dimanakah akal kita diletakkan???
  • - Bertaubat atas segala dosa yang pernah dilakukan agar hati kita menjadi lembut dalam menerima setiap kebenaran dan kebaikan
  • - Sesungguhnya hakikat taubat adalah kembali kepada Allah dengan berpegang teguh pada apa yang diwajibkan oleh Allah kepada seorang hamba, serta meninggalkan larangan-Nya.
  • - Syarat taubat nasuhah adalah penyesalan, meninggalkan perbuatan dosa, bertekad tidak akan mengulangi perbuatan dosa, mengembalikan hak kepada ahlinya.
  • Membangkitkan ‘azam (keinginan yang kuat) untuk mewujudkan amalan sholeh di bulan Ramadhan
  • - Karena hakikat puasa adalah orang meninggalkan makan dan minum karena Allah Ta’ala. Sehingga dengan berpuasa akan mendidik jiwa agar ikhlas dalam beramal.
  • - Dan tuntutan berpuasa adalah untuk mengendalikan hawa nafsu. Karena syaithon dalam menggoda manusia menggunakan kendaraan syahwat dan hawa nafsu, maka dengan mengurangi makan dan minum kendaraan syahwat dapat dikendalikan dan diharapkan mudah melakukan amal kebaikan sehingga diperlukan komitmen pribadi di awal Ramadhan
  • Memperbanyak dzikir dan istighfar (mohon ampun kepada Allah)
  • Menghidupkan malam Ramadhan dengan sholat Tarweh atau sholat-sholat sunnah lainnya, misalnya: sholat dhuha, sholat syuruq, sholat rawathib dll
  • Memperbanyak interaksi dengan Al-Quran yakni membacanya, mentadaburi dan mengamalkannya
  • Memperbanyak bersedekah di bulan Ramadhan
  • Melakukan umrah di bulan Ramadhan jika ada kemampuan
  • Mengakhiri ramadhan dengan beri’tikaf 10 hari terakhir di masjid, membayar zakat dan melaksanakan sholat Iedul Fithri

Wallahu a’lam bishawab