google yahoo msn youtube aol wikipedia  amazone  facebook twitter


Showing posts with label General. Show all posts
Showing posts with label General. Show all posts

Friday, October 22, 2010

Civilization and Happiness

What is the civilization? And what is the happiness? What is the correlation? Although not the only, people say that the aim of building civilization is to obtain happiness.

Isolated tribal hinterland, a very humble and modest community, often called "low civilized". Conversely the more developed rural community or a large urban population, developed countries and the like often called "high civilized". Is it true?

Sometimes a question raised in my minds, what people actually want bothered to become "highly civilized" or to become "modern"? Whether for achieving the happiness?

Perhaps one reason that it makes sense is that their life will becomes easier. Or so they could be happier with the social order that are considered "advanced" and "better". Is it true?


Wednesday, February 3, 2010

Think About Marriage

One thing that became almost everyone's agenda is marriage. Marriage will be something big because it was a new era had never experienced before.

When a person is still far from thinking about marriage, maybe the word "marriage" will mean only limited to words that are not so profound meaning. Married to understand just to get a couple who will always accompany with every day.

When the time comes and someone patterns of thinking has changed, the understanding of marriage must have changed.

Monday, September 7, 2009

Are you capable ?


In this life, often we are faced with a variety of things, conditions or circumstances we have to face. When everything is running normal and ordinary you may not realize where the real limits of your ability. A frog that locked up inside the iron bucket will be limited to high of the bucket. He will not really know how high he actually can jump. Likewise, when a formula 1 car driven on the highway traffic, we will never know the maximum speed it can reach.

If you are like a frog in a bucket or a formula 1 car on the street, get out... In aircraft technology, the wing will not be tested only with a half or one-time its nominal capacity, but two or three times...! Aircraft wing that are being produced will be bent over it's normal strength required to fly.

Saturday, August 29, 2009

Kita Merencanakan, Tuhan Menentukan

"Kita yang merencanakan, Tuhan yang menentukan.. "
Sebagai umat yg ber-Tuhan, dari dulu saya setuju dengan makna kalimat itu. Meskipun bukan yang pertama kali, kali ini sekali lagi saya harus tunduk kepada suratan tangan Tuhan. Bukan untuk membesar-besarkan, dan memang ini bukan sesuatu yang terlalu besar untuk disesali atau diratapi..."cuma" tidak bisa pulang bertemu orang tua dan keluarga saat lebaran.

Semingu yang lalu, atas kebijakan kantor semua karyawan di departemen saya diminta mengisi formulir cuti. Tujuannya tentu saja untuk memetakan siapa yang akan pulang dan siapa yang akan bertahan, bertahan di kantor, meskipun tidak benar-benar di kantor tentunya. Sudah mengisi formulir dengan jadwal cuti tanggal 18 September s.d. 4 Oktober, saya merasa lega. "Separuh jalan sudah terlewati untuk bisa lihat kampung halaman dan juga bertemu orang-orang tercinta", pikir saya.

Malam harinya, di rumah sudah searching tiket Pekanbaru - Jakarta untuk pulang. Rencana saya dari Jakarta ke Solo disambung dengan Kereta Api, karena ada seseorang yang akan ikut "mudik" ke Solo. Meskipun sudah mendengar berita di TV tiket kereta api s.d. H-1 sudah habis terjual, saya tidak ambil pusing. Saya yakin pasti dapat. Bukankah saya percaya bahwa Tuhan yang menentukan. Saya juga sudah minta dicarikan tiket Pekanbaru-Jakarta dari kantor. Wah, sudah 75% jalan terlampaui...

Pada hari Kamis kemarin, departemen kembali menyusun rencana. Diadakan meeting sekali lagi untuk memastikan siapa beruntung dan siapa yang tidak beruntung... Akhirnya saya masuk dalam kelompok yang kurang beruntung karena diputuskan tidak bisa ambil cuti saat hari raya. Alasannya tidak ada orang yang cukup untuk standby Memang kebetulan rekan saya yang biasa kerja bareng memutuskan untuk pergi dari kantor dan pergi selama-lamanya. Eit.., jangan salah dulu, maksudnya pulang lebaran dan tidak balik kerja di kantor kami lagi. resign.. Akhirnya saya harus standby s.d. tanggal 24 September. Jadi rencana pulang masih bisa, meskipun sudah sedikit kehilangan momentum Wah, ternyata kisah berakhir sedih di tahun ini, tidak bisa berkumpul keluarga dan orang-orang tercinta saat hari bahagia..

Kita yang merencanakan, Tuhan yang menentukan

Tuesday, August 4, 2009

MBAH SURIP


Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak donk, mantep donk
Daripada kamu naik pesawat kedinginan
Mendingan tak gendong to
Enak to, mantep to Ayo.. Kemana..?


Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana
Enak tau..

Where are you going?
Ok I'm walking
Where are you going?
Ok my darling
Ha...Ha...

Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak donk, mantep donk
Daripada kamu naik taxi kesasar
Mendingan tak gendong to
Enak to, mantep to
Ayo.. Mau kemana…?

Tak gendong kemana-mana
Tak gendong kemana-mana
Enak tau

Where are you going?
Ok I'm walking
Where are you going?
Ok my darling
Ha.. Ha...

Tak gendong kemana-mana
Enak tau
Ha.. Ha...
Ha.. Ha...
Ha.. Ha......
Capek.....


Ha..ha..ha Siapa yang mau digendong? Kalau belum sempat digendong Mbah Surip, bakalan tidak pernah kesampaian lagi. Berita mengejutkan pagi ini saat saya melihat berita di TV Mbah Surip telah meninggal. Tidak hanya terkejut, tetapi juga sedih. Saya salah satu penggemar lagu-lagu Mbah Surip. Meskipun boleh dibilang belum lama namanya mendunia Indonesia, tetapi dengan hits 'Bangun Tidur' dan 'Tak Gendong', namanya menjadi begitu tenar. Lirik lagunya yang sederhana tetapi lucu dan unik, telah menyita perhatian saya, dan mungkin juga bagi banyak orang lain di luar sana..

Saat kepopulerannya baru mulai sampai di puncak, baru seumur jagung tetapi fantastis, dia mendahului kita dipanggil Yang Maha Kuasa.

Kepopuleran Mbah Surip, penyanyi reggae kelahiran Mojokerto 5 Mei 1949, dengan nama asli Urip Ariyanto, baru benar-benar mencuat saat dia menyanyikan lagu 'Tak Gendong', meskipun sebenarnya dia sudah mengeluarkan beberapa album seperti Ijo Royo-Royo(1997), Indonesia I (1998), Reformasi (1998), Tak Gendong (2003) dan Barang Baru (2004). Dari lagu 'Tak Gendong' yang telah dijadikan RBT (nada sambung pribadi), dia sudah mengantongi sekitar Rp 4 miliar sebagai royalti, dengan total pendapatan Rp. 9 milliar !!.

Sebagai 'konsekuensi' ketenarannya, akhir-akhir ini Mbah Surip telah menghiasi berbagai acara televisi. Nanti malam pun, seandainya dia belum dipanggil Sang Kuasa, di salah satu station TV nasional kita Mbah Surip sudah dijadwalkan mengisi acara ulang tahun acara gosip di TV itu. Luar biasa..!!

Mbah surip telah mengalahkan kerasnya persaingan dunia musik Indonesia, Mbah Surip telah mengalahkan anggapan bahwa hanya tampang yang bisa dijual di dunia entertain, Mbah Surip telah mengalahkan mitos yang tua sudah tidak bisa berkarya. Hanya satu yang tidak bisa Mbah Surip kalahkan...kehendak Sang Pemiliknya.

Selamat jalan Mbah Surip, jutaan orang pasti akan tetap mengenangmu...

Saturday, July 4, 2009

HUJAN BATU...HUJAN EMAS



Hujan batu di negeri sendiri…Hujan emas di negeri orang
Mana yg lebih enak? Sama-sama tidak enak.. menurut saya. Yang enak kalau hujan besar terus tidur pakai selimut di kamar:D.Just a joke..
Apakah ada realitas yg mewakili perumpamaan itu.’ Hujan batu di negeri sendiri’ artinya banyak kekurangan, keterbatasan, kurang mendapat kemakmuran, ‘kering’, dan seterusnya yg dialami di daerah, negara atau tempat asal kita. Sedangkan ‘hujan emas di negeri orang’ maksudnya lebih banyak kemakmuran, uang, atauwhatever kita dapatkan meskipun kita harus pergi merantau, jauh dari tanah leluhur, keluarga, teman kecil dst. Jawabannya, mungkin ada. Jadi lebih pilih yang mana? Yang pasti setiap orang punya pilihan yg tidak sama. Saya sendiri? Maunya hujan emas di negeri sendiri…. hujan emas di negeri orang, enak kan?
Saya sendiri sudah ‘menjajah’ negeri orang setelah selesai dari SMP. Artinya, sudah hidup di negeri orang. Sejak SMA sudah tinggal terpisah dari orang tua, meskipun masih bisa seminggu atau dua minggu sekali pulang. Ini sudah menjadi latihan untuk tinggal di negeri orang. Namanya latihan, jangan yang berat-berat dong. Tapi memang banyak hujan di negeri orang, tapi hujan batu. Lho terus ngapain..? Lagi sekolah Mas, Mbak. Ibarat lagi ditempa di kawah candradimuka, pastinya dong bukan buat senang-senang.
Sampai melanjutkan kuliah di Surabaya, yang hanya setahun dan dilanjut di Bandung 4.5 tahun. Makin jauh dari ‘negeri sendiri. Masih saja banyak hujan di negeri orang; bisa pulangnya makin jarang, uang saku pas-pasan, dsb. Memang ada ‘hujan emas’ nya, tapi belum berbentuk cincin, kalung, atau gelang. Masih bijih emas, belum kelihatan. Sekarang apa sudah jadi cincin, gelang atau kalung emasnya? Belum juga, baru sedikit. Lho kok lama banget?
Habis kuliah kerja di Bintan sebentar dan lanjut ke tempat sekarang, masih di Riau. Makin jauh di negeri orang. Dan apa hujannya di Riau sekarang, emas atau batu? Dua-duanya ada. Lebih banyak yang mana? Ngga gampang jawabnya. Kalau membandingkan saya punya uang seribu dan salah satu teman saya punya dua ribu, itu nyata dan mudah mejawabnya siapa yang uangnya lebih banyak. Yang pasti saya bersyukur.
Whatever, istilah atau perumpamaan itu boleh dijadikan renungan. Apakah akan memilih hujan batu di negeri sendiri atau hujan emas di negeri orang. Yg paling baik, menurut saya, kalau kita bisa mendapatkan hujan emas di negeri sendiri.